Kamis, 27 Januari 2011

guru KONTRAK

Beberapa tahun yang lalu dunia pendidikan dikejutkan dengan langkah pemerintah yang sangat hebat dalam mengatasi kekurangan guru dengan mengangkat guru kontrak. Hal ini patut kita acungi jempol karena dengan demikian maka kekurangan guru dapat diatasi. Ini tidak saja mengatasi mengatasi kekurangan tenaga mengajar saat itu namun bisa mengangkat nilai guru hono rer menjaadi guru kontrak.
Namun nampaknya kini guru kontrak tak seindah nama dan harapan penyandangnya. Pemerintah seakan menutup mata akan keadaan sang pahlawan tanpa tanda jasa ini. Bagaimana tidak, apa yang seharusnya menjadi hak setiap bulannya harus terlambat untuk mereka nikmati. Tak jarang mereka merasa iri dengan para sahabatnya lain yang berprofesi sebagai guru negeri yang selalu lancar menerima gaji setiap awal bulan. Kadang mereka berpikir untuk meninggalkan pekerjaan ini namun nampaknya ketakutan lah yang membawa mereka untuk tetap mengajar. Namun mereka takut bila nanti harus mengangur dan tak jarang kalo itu merupakan satu-satunya mata pencaharian mereka.
“Andaikan gaji seorang guru kontrak bagaikan gaji pemain sepak bola?”
Pertanyaan ini pastinya membuat banyak orang tertawa. Tapi kenapa tidak. Seorang guru tak beda dengan seorang pemain sepak bola. Mereka sama-sama menjual jasa untuk tujuan yang berbeda. Seorang guru mereka menjual saja untuk dalam bidang pendidikan, dan seorang pesepak bola menjual jasa dalam bidang olah raga. Dalam masalah ini seorang guru negeri digaji oleh pemerintah dan seorang pesepak bola digaji oleh klup tempat mereka bermain.
Beberapa guru memang digaji oleh installasi tempat mereka mengajar. Tapi gaji mereka jauh beda dari gaji guru negeri. Mereka biasanya disebut guru wiyata atau guru suwasta dimana rata-rata mereka bekerja untuk sekolah-sekolah suwasta. Rata-rata mereka merupakan keluaran terbaru dari Universitas tempat mereka belajar ataupun seorang guru biasa yang belum memiliki kesempatan untuk merasakan nikmatnya menjadi pegawai negeri.
Tapi bagaimana bila seorang guru digaji bukan karena setatus mereka sebagai pegwai negeri, lama mereka mengapdi dan Universitas tempat mereka berasal. Melainkan mereka digaji karena suatu keprofesionalan yang mereka miliki. Mereka digaji bukan oleh pemerintah melainkan oleh suwasta yang menerima jasa mereka. Tinggi-rendahnya gaji mereka juga bukan karena lama mereka bergelut dengan dunia pendidikan, namun karena sekil mereka dalam mengelola pembelajaran.
Tentunya guru kontrak akan menjadi suatu tren yang luar biasa hebatnya bila memang cara menghargai keprofesionalan mereka bagaikan kontrak pemain sepak bola. Mereka yang mempunyai sekil akan bisa mendapatkan hak yang sepadan. Seorang pemilik sekolah suwasta ataupun kepala sekolah dapat membeli seorang guru yang berkualitas dari sekolah lain dengan tentunya dengan kontrak yang disepakati oleh ketiga belah pihak. Yaitu kedua kepala sekolah yang saling bekerja sama dan guru yang diinginkan. Bahkan bila seorang guru benar-benar profesional dapat menolak tawan mengajar karena penawaran gaji yang tidak sesuai. Tapi seorang kepala sekolah juga berwanang dalam pemutusan kontrak seorang guru karena ia dianggap tidak lagi menguntungkan bagi installasi tempat mereka mengapdi.
Namun semua itu hanya suatu pemikiran dari seorang yang mengharapkan perubahan dalam dunia pendidikan belaka. Seseorang yang hanya mampu menulis dengan segala kekurangan yang dia punya. Tentunya tidak ada maksud apapun dibalik semua ini melainkan untuk mengisi waktu luang penulis belaka. Dan andai kata hal ini benar-benar terealisasi, pasti akan menjadi suatu solusi baru dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar